Senin, 23 Mei 2011

kumpulan teks misterius

The Codex Seraphinianus
Ditulis kira2 tahun 1976 dan 1978 oleh seniman Italia Luigi Serafini, bukan apa-apa jika tidak disengaja menciptakan sesuatu yang misterius. Buku ini dikatakan menjadi ensiklopedia sebuah planet yang imajiner, lengkap dengan peta dan gambar tanaman dan kehidupan binatang. Yang paling menarik, Serafini menulis buku dalam bahasa hipotetis nya dunia itu. Seluruhnya disusun dalam abjad aneh yang masih belum diterjemahkan bahkan setelah studi yang mendalam oleh ahli bahasa. Karena teks itu sendiri tidak dapat dibaca, Codex telah menjadi paling terkenal karya seni Serafini, yang berkisar dari sureal dan indah. Satu Halaman menggambarkan buah yang kelihatannya berdarah, sementara yang lain menunjukkan ikan yang berbentuk seperti piring terbang. Dalam salah satu gambar buku yang paling terkenal (ini sudah penutup dalam edisi tsb), rangkaian panel menggambarkan seorang pria dan wanita telanjang perlahan-lahan berubah menjadi seekor buaya.

Kemungkinan Penjelasan:
Teori abound seperti apa rahasia dari Codex Seraphinianus sebenarnya, tetapi Serafini tetap bungkam tentang makna buku sejak rilis di awal tahun 80-an.

The Beale Ciphers
Cerita di balik Ciphers Beale, yang telah digagalkan calon pemecah kode untuk lebih dari 100 tahun, adalah jenis harta kuno dikubur dibawah Hollywood. Cerita ini dimulai di Virginia tahun 1820, ketika seorang pria bernama Thomas Beale seharusnya mempercayai sebuah kotak yang berisi tiga halaman teks kode untuk sebuah penginapan, dengan instruksi bahwa kotak hanya akan dibuka jika Beale tidak kembali untuk mengklaim dalam waktu sepuluh tahun. Beale kemudian menghilang tanpa jejak, dan pemilik penginapan, bernama Robert Morriss, kemudian menghabiskan beberapa tahun berusaha untuk memecahkan kode halaman. Salah satu dari mereka akhirnya retak oleh salah satu teman Morriss ', yang menggunakan Deklarasi Kemerdekaan sebagai kunci. Saat itulah diketahui bahwa halaman itu sebuah peta ke lokasi cache dari harta karun terkubur. Menurut dokumen, Beale dan beberapa kaki telah menemukan ribuan pound emas dan perak di New Mexico dan kemudian menguburkannya di Bedford County, VA. Sayangnya, Morriss dan temannya tidak dapat men-decode dua halaman lainnya, yang memberikan lokasi yang tepat harta dan nama-nama pemiliknya, dan metode Beale aneh tentang enkripsi telah berhasil membingungkan siapa pun yang mencoba memahaminya sejak.

Kemungkinan Penjelasan
The Beale Ciphers sejak menjadi hartakarun berharga (ratusan calon pemburu harta karun telah ditahan karena melanggar batas di Bedford County), tapi emas dan perhiasan Beale tak pernah ditemukan. Banyak sejak mengklaim bahwa sandi tidak lain hanyalah sebuah lelucon yang rumit, dan banyak cerita detail-seperti kata2 tertentu dalam dokumen yang tidak dalam penggunaan populer hingga tahun kemudian. Meski demikian, ini tidak menghentikan orang dari mencoba untuk membuka rahasia Beale, terutama karena harta itu sekarang akan bernilai sekitar $ 40 juta.

The Liber Linteus
The Linteus Liber adalah teks kuno yang mengembalikan kembali ke hari-hari Etruria, budaya yang berkembang di Italia pada tahun-tahun sebelum munculnya Kekaisaran Romawi. Selain menjadi salah satu dokumen Etruscan tertua dan terpanjang, yang Linteus Liber ini juga terkenal karena menjadi contoh yang hanya dikenal dari sebuah buku yang terbuat dari linen. Bahkan lebih menarik daripada dokumen itu sendiri adalah konteks penemuannya. Setelah jatuhnya Etruria, artefak budaya mereka seperti Linteus Liber berhenti memegang makna apa pun ke Roma. Apa yang mereka tidak peduli, meskipun, adalah kain lenan bahwa buku itu ditulis di. Hal ini karena setelah Roma menaklukkan Mesir, banyak dari mereka mulai merangkul kebiasaan mumifikasi, yang diperlukan tubuh dibungkus dengan kain. Melalui praktik bahwa Linteus Liber, yang mungkin dipandang sebagai artefak tidak berguna, akhirnya digunakan sebagai pembungkus pemakaman bagi tubuh mumi istri seorang penjahit Mesir. Mayat mumi ini sama dibeli ratusan tahun kemudian oleh Kroasia kaya, yang dimaksudkan untuk menggunakannya sebagai hiasan dinding. Setelah kematiannya pada 1800-an, mumi disumbangkan kepada museum, dan hanya kemudian adalah makna budaya besar dari Linteus Liber menyadari.

Kemungkinan Penjelasan
Secara keseluruhan, para Linteus Liber terdiri dari 230 baris teks sejumlah 1200 kata. Sangat sedikit yang diketahui hari ini tentang bahasa Etruscan, dan oleh karena itu dokumen yang belum pernah sepenuhnya diterjemahkan. Tapi berdasarkan pengetahuan mereka yang terbatas, para ahli telah menetapkan bahwa Linteus Liber kemungkinan besar kalender yang menggambarkan ritual keagamaan Etruscan.

The Book of Soyga
Abad Pertengahan diproduksi bagian mereka dari teks yang aneh, tapi mungkin tidak sama misterius sebagai Kitab Soyga, sebuah buku sihir dan paranormal yang berisi bagian-bagian yang belum diterjemahkan oleh para sarjana. Buku ini terkenal karena berkaitan dengan John Dee, seorang pemikir, mencatat era Elizabethan yang terkenal untuk mencoba2 hal gaib. Pada tahun 1500-an, Dee dikatakan menjadi pemilik salah satu salinan buku, dan ia diduga menjadi terobsesi membuka rahasia, terutama serangkaian tabel terenkripsi yang Dee percaya memegang kunci ke beberapa jenis pengetahuan spiritual esoteris . Ini bukanlah tugas yang mudah, sebagai penulis buku yang tidak diketahui telah digunakan sejumlah trik ketik, termasuk menulis kata-kata tertentu dan pengkodean skrip orang lain dalam matematika. Dee menjadi begitu terpaku pada retak kode bahwa ia bahkan melakukan perjalanan ke benua Eropa untuk bertemu dengan media rohani yang terkenal yang disebut Edward Kelley. Melalui Kelley, Dee mengaku telah menghubungi malaikat Uriel, yang ia mengklaim mengatakan bahwa asal-usul buku itu tanggal kembali ke Taman Eden.

Kemungkinan Penjelasan
Sayangnya, Dee tidak mampu menyelesaikan decoding misteri Kitab Soyga sebelum kematiannya. Buku itu sendiri, meskipun diketahui telah ada, diyakini hilang sampai tahun 1994, ketika dua salinan itu ditemukan kembali di Inggris. Para ahli telah sejak mempelajari buku itu, dan salah satu dari mereka mampu menerjemahkan sebagian tabel yang telah begitu terpesona Dee. Namun, me buku ini kemungkinan besar terkait dengan Kabbalah, sebuah sekte mistik Yahudi, para peneliti belum dapat menguraikan signifikansi nyata buku ini.

asal mula seejarah sepak bola

Asal muasal sejarah munculnya olahraga sepak bola masih mengundang perdebatan. Beberapa dokumen menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi menjelaskan sepak bola berasal dari tiongkok. FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan bahwa sepak bola lahir dari daratan Cina yaitu berawal dari permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM. Olah raga ini saat itu dikenal dengan sebutan “tsu chu “.
Dalam salah satu dokumen militer menyebutkan, pada tahun 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, masyarakat Cina telah memainkan bola yang disebut tsu chu. Tsu sendiri artinya “menerjang bola dengan kaki”. sedangkan chu, berarti “bola dari kulit dan ada isinya”. Permainan bola saat itu menggunakan bola yang terbuat dari kulit binatang, dengan aturan menendang dan menggiring dan memasukkanya ke sebuah jaring yang dibentangkan diantara dua tiang.
Versi sejarah kuno tentang sepak bola yang lain datangnya dari negeri Jepang, sejak abad ke-8, masyarakat disana telah mengenal permainan bola. Masyarakat disana menyebutnya dengan: Kemari. Sedangkan bola yang dipergunakan adalah kulit kijang namun ditengahnya sudah lubang dan berisi udara.
Menurut Bill Muray, salah seorang sejarahwan sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi. Pada saat itu, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen.
Sisi sejarah yang lain adalah di Yunani Purba juga mengenal sebuah permainan yang disebut episcuro, tidak lain adalah permainan menggunakan bola. Bukti sejarah ini tergambar pada relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan pahanya.
Sejarah sepak bola modern dan telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, asal muasalnya dari Inggris, yang dimainkan pada pertengahan abad ke-19 pada sekolah-sekolah. Tahun 1857 beridiri klub sepak bola pertama di dunia, yaitu: Sheffield Football Club. Klub ini adalah asosiasi sekolah yang menekuni permainan sepak bola.
Pada tahun 1863, berdiri asosiasi sepak bola Inggris, yang bernama Football Association (FA). Badan ini yang mengeluarkan peraturan permainan sepak bola, sehingga sepak bola menjadi lebih teratur, terorganisir, dan enak untuk dinikmati penonton.
Selanjutnya tahun 1886 terbentuk lagi badan yang mengeluarkan peraturan sepak bola modern se dunia, yaitu: International Football Association Board (IFAB). IFAB dibentuk oleh FA Inggris dengan Scottish Football Association, Football Association of Wales, dan Irish Football Association di Manchester, Inggris.
Sejarah sepak bola semakin teruji hingga saat ini IFAB merupakan badan yang mengeluarkan berbagai peraturan pada permainan sepak bola, baik tentang teknik permainan, syarat dan tugas wasit, bahkan sampai transfer perpindahan pemain.

asal mula bahasa sunda

Bahasa Sunda sebagai bahasa resmi pernah mandeg ketika tatar Sunda menjadi bawahan Mataram, pada Jaman Amangkurat I sedikit-demi sedikit diserahkan kepada Belanda. Pada amasa itu bahasa Sunda hanya digunakan sebagai bahasa lisan–bahasa sehari-hari, sedangkan bahasa formalnya menggunakan bahasa Jawa, Konon kabar sejak abad 17 (Jatuhnya Pajajaran), di tatar Sunda menggunakan naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon.

Bahasa Sunda mulai banyak digunakan kembali pada abad ke-19. Karena Belanda pun sebelumnya menganggap Urang Sunda hanya sebagai orang jawa gunung yang hidup didaerah barat pulau Jawa.

Bahasa Sunda manggung deui pertama-tama setelah diketahui bahwa ternyata Urang Sunda itu memiliki Budaya dan bahasa yang tersendiri, sama halnya dengan Melayu dan Jawa. Memang memerlukan jalan panjang untuk membuktikan adanya etnisitas ini, bahkan Rafles pun hanya menganggap bahasa Sunda itu hanya dialek dari bahasa Jawa. Secara resmi

Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde.

Perihal hubungan Budaya dan Bahasa memang lajim disebut pertanda bangsa – Basa Ciciren Bangsa (een volk). Pendapat ini dikemukakan pula pada tahun 1920-an oleh Memed Sastrahadiprawira, seorang sarjana sunda. Ia mengemukakan :

“Basa teh anoe djadi loeloegoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea pada leungit, bedana bakat-bakatna kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana sowoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit”

Dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Pandangan ini menyatakan bahwa : bahasa merupakan representasi, cerminan suatu kebudayaan ; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya..

Sejarah Penggunaan Bahasa Sunda

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:

(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)

(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.

Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya.

Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini.

Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.

Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.

Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928.

Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.

Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun.

Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat.

Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

asal mula bahasa sunda

Bahasa Sunda sebagai bahasa resmi pernah mandeg ketika tatar Sunda menjadi bawahan Mataram, pada Jaman Amangkurat I sedikit-demi sedikit diserahkan kepada Belanda. Pada amasa itu bahasa Sunda hanya digunakan sebagai bahasa lisan–bahasa sehari-hari, sedangkan bahasa formalnya menggunakan bahasa Jawa, Konon kabar sejak abad 17 (Jatuhnya Pajajaran), di tatar Sunda menggunakan naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon.
Bahasa Sunda mulai banyak digunakan kembali pada abad ke-19. Karena Belanda pun sebelumnya menganggap Urang Sunda hanya sebagai orang jawa gunung yang hidup didaerah barat pulau Jawa.

Bahasa Sunda manggung deui pertama-tama setelah diketahui bahwa ternyata Urang Sunda itu memiliki Budaya dan bahasa yang tersendiri, sama halnya dengan Melayu dan Jawa. Memang memerlukan jalan panjang untuk membuktikan adanya etnisitas ini, bahkan Rafles pun hanya menganggap bahasa Sunda itu hanya dialek dari bahasa Jawa. Secara resmi

Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde.

Perihal hubungan Budaya dan Bahasa memang lajim disebut pertanda bangsa – Basa Ciciren Bangsa (een volk). Pendapat ini dikemukakan pula pada tahun 1920-an oleh Memed Sastrahadiprawira, seorang sarjana sunda. Ia mengemukakan :

“Basa teh anoe djadi loeloegoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea pada leungit, bedana bakat-bakatna kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana sowoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit”

Dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Pandangan ini menyatakan bahwa : bahasa merupakan representasi, cerminan suatu kebudayaan ; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya..

Sejarah Penggunaan Bahasa Sunda

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:

(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)

(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.

Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya.

Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini.

Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.

Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.

Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928.

Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.

Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun.

Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat.

Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

artikel present perfect tense

the man who can't be move

Here I am, standing on the corner of Eighth and Grand. This was our corner. This was where we first met, me and Olivia. This was the spot we first held hands, first kissed, first fought, and first cried. Here I am now, making another first: my first time here without her. My hands are shaking, my heart is pounding, and my nerves are running wild as I stand here, wondering if she will ever come back to me. Would she come to this spot like she always said she would? The corner of Eighth and Grand...

I’m sitting here on the corner, thinking about everything we had been through, hoping to remember how one phone conversation could drastically change things.

Liv, we’ve been on the phone for two hours. What more could you have to say?”

“Oh my God, Danny, calm down. You’re not the one paying for this international bill. And plus, I haven’t talked to you in three weeks,” she told me, still excited to hear my voice after two hours.

“Okay, fine with me. Just keep talking. But just warning you, you’re just getting up, but it’s midnight here. It could only be minutes before I fall asleep,” I responded, listening to Olivia ramble about everything happening in Australia without me. We had always dreamt of going there together, but when an internship came up for her, I had to let her go alone.

Another hour had passed. She was talking in super-speed, not forgetting to tell me anything. Olivia told me about her boss, Amy, who was young, born in London, an architect, and apparently really down to earth. It sounded to me like they were becoming fast friends, and I was sure I knew more about Amy in those five minutes, than I would, just talking to her for an hour.

She told me about the incredible food and amazing surroundings. She already met some famous person. I don’t even know who the guy was, but all I knew was that I had never heard her so excited to talk to me before.

“I just have one question,” I asked, interrupting her, mid-sentence. “You’re not coming back, are you?”

The phone went silent for the first time in three hours. Part of me wished I wouldn’t have asked the question, but I really had been wondering.

“Dan, I don’t know when I’m coming back. I should be home for Christmas. I’ll be lucky if I make it home during the summer. But, don’t worry, okay? I’ll call or text you every day from now on. I’ve been going crazy not talking to you,” I could sense Olivia awaiting my reply.

“Okay,” I told her, “you know what, I’m pretty much falling asleep, so just text me tomorrow—my time—and we can talk.”

“Dan, don’t be mad at me. You know how busy I am. If this were any other job, I wouldn’t have taken it, just to be closer to you. I’m sorry Dan, you know I am,” she said. I could sense her starting to get upset.

“Yeah, I know. You’re busy. Just call me when it’s convenient, okay,” I told her.

The phone clicked off. I set my phone on the table next to my bed. I thought about Olivia’s reaction and quickly turned off the light before I had time to think about it anymore.

The thought of that one phone conversation ended quickly when an unknown voice began talking to me.

“Hello? Sir? It’s getting late, you should probably be getting home, or at least relocating yourself,” I heard. I opened my eyes to a blinding flashlight being pointed towards my face.

“Oh, uh, hi, sorry. I guess I must have fallen asleep here,” I told the man with the flashlight.

“All the street lights are going to be turned off soon, so I’m not sure where you want to go. You probably shouldn’t stay here, though. It’s not the safest place in town,” he told me.

“It’s okay. I’m going to stay here for a while. It’s a long story, and I just need to be here,” I said, as I grabbed my pillow and blanket from behind me, lying down on the cold, hard ground.

“I really don’t think it’s safe, but whatever you want to do. Good luck, son,” the man, who I finally realized was a police officer, told me as he turned around to walk back down the street.

Whoa, I must have fallen asleep when I sat down and was thinking about Olivia. Chills ran through my spine. It’s been a long day. It didn’t take long for me to start thinking of her again.

For days, I waited for her to call me. It had been almost a week since I talked with her. I was eating dinner alone listening to our song, “Happiness” by The Fray, when my phone vibrated in my back pocket. The screen flashed with Olivia’s picture, and I took a deep breath before answering the phone.

“Hello?”

“Hey, Dan. I’m sorry I haven’t called lately. I’ve been insanely busy,” Olivia explained.

“Yeah I know, it’s fine. How are you,” I asked her.

“I’m good. I haven’t stopped since I last talked to you. I’m exhausted. And I really miss you. I wish I was coming home soon,” she said, sounding completely worn out.

“I wish you were too,” I told her.

“Well can we talk about our conversation the other night? I got off the phone and cried for an hour before I went in to work. It wasn’t exactly the way I wanted to start my day,” she explained, sounding agitated.

“Yeah, we can talk,” I told her, even though I wanted to avoid the subject altogether.

“Okay, well Danny, I don’t know what you want me to do. It’s not my choice when I come home. My contract is for a two year internship with Amy, and if I get a job here, I’d end up having to move. But that’s what we’ve always wanted right? We’ve talked about moving here! Why don’t you come to visit for a while,” she started rambling.

“I can’t. I’m busy,” I lied.

“What are you doing right now?”

“Not one thing,” I told her, honestly.

I was only becoming more frustrated as this conversation continued.

present perfect tense

Present Perfect Tense merupakan Tenses ketiga dalam Bahasa Inggris. Secara sederhana diartikan sebagai bentuk waktu yang menjelaskan tentang suatu kejadian, peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada periode tertentu dan pada saat bicara, kejadian, peristiwa atau aktivitas tersebut tidak lagi dilakukan atau berlangsung.

Rumus:

a. Kalimat Verbal:

(+) Subjek + have, has + V3 + dll
(-) Subjek + have, has + not + V3 + dll
(?) Have, Has + subjek + V3 +dll?

b. Kalimat Non-Verbal
(+) Subjek + have, has + been + dll
(-) Subjek + have, has + not + been + dll
(?) Have, Has + subjek +been +dll?

Perhatikan contoh berikut:

KALIMAT VERBAL

a. Kalimat Positif
  • I have seen the movie.
  • We have seen the movie.
  • You have seen the movie.
  • They have seen the movie.
  • He has seen the movie.
  • She has seen the movie.
  • My friend has seen the movie.
b. Kalimat Negatif
  • I have not seen the movie.
  • We have not seen the movie.
  • You have not seen the movie.
  • They have not seen the movie.
  • He has not seen the movie.
  • She has not seen the movie.
  • My friend has not seen the movie.
c. Kalimat Tanya
  • Have you seen the movie?
  • Have they seen the movie?
  • Has he seen the movie?
  • Has she seen the movie?
KALIMAT NON-VERBAL

a. Kalimat Positif
  • I have been here for 20 minutes.
  • We have been here for 20 minutes.
  • You have been here for 20 minutes.
  • They have been here for 20 minutes.
  • He has been here for 20 minutes.
  • She has been here for 20 minutes.
  • My friend has been here for 20 minutes.
b. Kalimat Negatif
  • I have not been here for 20 minutes.
  • We have not been here for 20 minutes.
  • You have not been here for 20 minutes.
  • They have not been here for 20 minutes.
  • He has not been here for 20 minutes.
  • She has not been here for 20 minutes.
  • My friend has not been here for 20 minutes.
c. Kalimat Tanya
  • Have you been here for 20 minutes?
  • Have they been here for 20 minutes?
  • Has he been here for 20 minutes?
  • Has she been here for 20 minutes?
Tense ini digunakan untuk:
  •  Pengalaman
  •  Perubahan
  • Situasi Yang berkelanjutan
Perhatikan contoh-contoh kalimatnya berikut ini:
  • We have never eaten pizza. (=I do not have any experience to eat pizza)
  • John has broken his leg. (=yesterday John had a good leg)
  •  I have lived in Medan for 3 years.
For & Since dengan Present Perfect Tense
  • Kita memakai for untuk membicarakan tentang sebuah periode waktu.
  • Kita memakai since untuk membicarakan tentang titik (batas waktu) di masa lampau.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
  • I have been here for 10 minutes.
  • I have been here since 4 o'clock.
  • Ann hasn't called me for 3 months.
  • Margareth hasn't called since March .
  • He has worked in Los Angeles for a long time.
  • He has worked in Alabama since he left school.

Rabu, 27 April 2011

artikel direct & indirect

 A Little Friend .

That was a bad day for our Mr. Lion King. During his chase to catch a rabbit he sprang into a small bush from where he came out not with the rabbit but with a large thorn in his palm.

He cried for help. He tried his best to pull out the thorn. He shook his hand, tried to pull out the thorn with his mouth etc. but all his efforts was in vain. The thorn began to smile at Mr. Lion.

Then he asked other animals for help. But they all feared the lion. So no animals came to help him.

At last the lion approached the clever fox. The king asked, “Can you pull out the thorn please. I am suffering very much with pain.”

The fox said, “I am not very expert in this task. But I have a little friend who is very expert in this work. I will surely ask him to help you. But I have some demands.”

“What are your demands?” asked the king.

“It is not just food or money Your Majesty! You should allow me to give you five kicks on your back!” the fox said.

The lion king asked with surprise and anger “Do you want to kick me? Don’t you know who I am?”

“I know! I know! But it is not my need to remove thorn from your palm. If you don’t want I am going. Good Bye” said the fox.

“Hey! Wait! Wait!” said the lion and he began to think for a moment “I am suffering with the pain of the thorn. It has to be pulled out. Let him kick me five times. I just want to remove the thorn. After taking the thorn I will eat up his little friend.”

The fox then began to kick the Lion King with his permission. One, two, three… like that. The fox called his little friend.

There comes a little porcupine. He pulled out the thorn with great ease. The pain in the palm of the lion was reduced. But his mind became filled with anger, grief and disappointment. What to say! He was very much disappointed in thinking how he can take revenge for the five kicks he got from the fox. How can he eat the porcupine with thousands of quills? At last he had to bow down before the great intelligence of the clever fox.